Bercengkrama dalam keheningan malam diantara pepohonan pinus disebuah pegunungan nan dingin, sambil menikmati secangkir jahe hangat membuat suasana semakin akrab. Iringan binatang malam membuat malam semakin syahdu dalam dekapan rindu obrolan sahabat yang lama tak bertemu. Begitulah malam yang aku lalui ketika bermalam di bawah air terjun Cilember, sebuah tempat wisata air terjun di daerah Cisarua.
Berawal dari sebuah rencana tak pasti yang rindu akan suasan alam, aku dan dua sahabat ku berniat untuk bermalam didaerah pegunungan, obrolan pun kami masih tak pasti hingga salah seorang sahabatku mengusulkan untuk berkunjung ke satu tempat wisata didaerah Cisarua yang telah lama tak kami kunjungi, sebuah tempat yang tidak begitu jauh dari Jakarta dan suasana yang cukup bersahabat untuk keluarga, karena sahabatku bermaksud untuk membawa serta keluarganya. Ide yang cukup bagus, hingga kami pun mematangkan rencana tersbut dan memastikan bahwa kami akan berangkat pada hari sabtu, 29 Oktober 2011.
Sesuai dengan rencana yang telah ditentukan. Sabtu pagi kami pun meluncur. Kedua sahabatku mengawali perjalanan dari Jakarta, sementara aku sendiri yang kebetulan berada di daerah Bogor barat akhirnya sepakat untuk bertemu di daerah Ciawi. Hanya selisih 15 menit sebelum akhirnya aku bertemu kedua sahabatku. Sebentar saling menyapa kami pun menyetop sebuah angkot yang kebetulan tak berpenumpang, setelah bertanya dan nego harga kami pun mencarter angkot tersebut dengan biaya Rp. 70.000; hingga tiba di gerbang air terjun Cilember.
Matahari masih belum terlalu tinggi ketika kami tiba ditempat, dan pengunjung pun masih belum terlalu ramai, karena kami berniat untuk bermalam maka per orang dikenakan biaya Rp. 20.000; biaya tersebut menurut kami cukup mahal untuk sebuah objek wisata seperti Cilember J, tapi tak apalah sekedar untuk melepas rindu pada alam, setidaknya kerinduan ini bisa terobati. Setelah melalui jembatan kecil kami disambut jalan bebatuan yang tertata rapih dengan kiri – kanan terlihat pepohonan yang diberi nama latin, cukup bagus untuk memperkenalan nama – nama pohon tersebut dengan nama ilmiah. Tak lama berjalan terlihat warung – warung istirahat terlihat lebih banyak dan lebih nyaman sejak pertama kali aku mengenal nama Cilember sembilan tahun yang lalu. Masih menyusuri jalan bebatuan terlihat rumah kupu – kupu salah satu daya tarik yang disediakan pengola untuk pengunjung yang ingin meikmati keindahan kupu – kupu. Tak lama kami pun melewati jembatan kecil kembali yang terlihat airnya begitu jernih dan deras dibawahnya. Sungguh merdu suara gemercik air itu. Dikejauhan terlihat beberapa tenda telah didirikan yang ternyata sedang ada perkemahan pramuka dari sebuat sekolah swasta. Kami masih terus berjalan dan meliha sekitar yang sudah banyak berubah.
Lelah kami berjalan gemuruh air semakin jelas terdengar dan tak lama kemudian kami pun kembali melihat keindahan air terjun Cilember yang membuat kami semakin rindu akan alam. Terlihat begitu banyak pengunjung yang sedang bermain air dengan tawa dan canda bersama sahabat – sahabat mereka. Kami sendiri untuk sementara hanya melihat dan menikmat keindahan alam sambil melepas lelah.
Lama kami istirahat di bawah air terjun cilember sambil meliha - melihat lokasi yang kiranya nyaman untuk kami mendirikan tenda, namun banyaknya pengunjung membuat kami urung mendirikan tenda di tempat tersebut, dan kami pun beranjak pergi dengan maksud menujuj air terjun di tingkat selanjutnya atau yang biasa disebut dengan curug 5, sementara air terjun yang dibawah diberi nama curug 7. jalan yang cukup menanjak memaksa kami untuk berhenti berkali – kali, maklum sudah lama juga kami tidak melakukan pendakian, untuk aku sendiri mungkin sudah lebih dari 2 tahun tidak mendaki. Perlahan namun pasti kami terus mendaki hingga sampai di tempat yang dituju, terlihat sebuah warung dengan bangunan tradisional dikerumuni pengunjung yang sedang bersantap siang setelah lelah bermain di curug 5, karena lelah dan lapar aku pun segera menuju warung tersebut, niat hati ingin makan siang namun apa daya kami kurang cepat, sehingga yang kami dapati hanya lah lontong – lontong imut pengganjal perut, karena persediaan nasi diwarung telah habis.
Setelah dirasa cukup dengan makanan seadanya kami pun langsung menuju air terjun, bermain air dan sedikit foto – foto, sekedar untuk kenang – kenangan. Sedang asyik dan serunya bermain air, tiba – tiba hujan mengguyur, kami pun bergegas menuju warung untuk berteduh. Ternyata hujan tak lama, namun seiring hal itu ternyata waktu telah menjelang sore, hingga akhirnya kami memutuskan kembali ke curug tujuh untuk mendirikan tenda. Tak seperti saat mendaki, menuruni bukit terasa lebih mudah dan lebih cepat J.
Setelah berkeliling agak lama, akhirnya kami menemukan juga tempat mendirikan tenda yang cuku nyaman, karena tepat di depan tenda kami terdapat meja batu beserta kursi nya yang juga terbuat dari batu, sementara tak jauh di sebelah kana tenda terdapat toilet dan sebelah kirinya suara aliran air terdengar lebih merdu mengiringi setiap kegiatan kami. Dan pada akhirnya tiba untuk kami menikmat santapan sederhana dimeja batu sambil menikmati suara air terjun di selingin nyanyian binatang malam. Tuhan, terima kasih atas anugrah alam yang indah dan malam yang damai ini.


0 komentar
Posting Komentar