Vanthera. Diberdayakan oleh Blogger.

Blogroll

# meski hanya berjarak satu detik, masa lalu itu tetaplah jauh, karena kita takkan mampu meraih detik itu kembali,,


#Tuhan memberikan kita kebebasan untuk memilih, tapi bukan untuk menentangNya...


#aku hanya tahu bahwa Allah selalu memberikan yang terbaik untuk umatnya, meskipun apa yang kita rencanakan tidak sesuai dengan harapan...


#kebencianmu pada seseorang menandakan bahwa kamu pun pantas untuk dibenci, karena Tuhan tidak mengajarkan kebencian kecuali pada kemungkaran...


#smua masalah itu sama, yang berbeda adalah penyelesaian dan cara kita menyikapinya...


#kalo kita ga pernah yakin dengan langkah kita, selamanya kita ga akan pernah sampai tujuan...


#mimpi lo untuk menjadi sukses, adalah tangga pertama untuk menjadikan diri lo sukses...


#kita tidak bisa berharap, dari sesuatu yang tidak pernah kita lakukan...

Popular Posts

Jumat, 06 Mei 2011

Ketika

14 July, 2004
Kemarin, dan ketika itu, aku melihat cinta hanya sebuah rintangan dalam aku mencapai impian, hanya sebagai ganjalan untuk mendapatkan apa yang kuinginkan, tetapi sekarang ketika semuanya telah berlalu, dan ketika cinta itu datang, aku terpaku dalam kebisuan, yang aku sendiri tak bisa menyangkal bahwa cinta telah membuat aku terlena, mengapa harus terjadi ? tapi memang seperti itulah ternyata hidup yang harus aku jalani, ke-ego-anku harus takluk hanya oleh setitik cinta dari seorang hawa, begitu dahsyat nya kah cinta ? tapi memang begitulah adanya, kini aku begitu merasakannya. Ketika ia datang, aku tak tahu kalau ia memang ada, ketika ia hadir, aku pun tak tahu bila ia memang nyata. Aku masih terus berlalu dalam keangkuhanku, akupun masih terus berjalan dalam kesombonganku. Sampai suatu hari cinta itu datang menyapa dalam sedu tangis yang mengiba, dalam desah nafas yang terluka, tapi aku masih tetap diam dan membisu, aku hanya terpaku atas apa yang sedang terjadi, sampai keputus asaan menegurku dalam kepastian yang nyata, bahwa ia memang telah hadir untukku, selamanya, itulah yang kutahu saat itu, ya hanya itu.
Tanpa rasa, aku menggapai cinta itu, tanpa nada, kuterima ia untuk bersemi dalam hati ku yang beku, dan kubiarkan ia tumbuh bersama keangkuhanku yang kian layu dalam semerbak bunga kasih yang mulai merekah tanpa warna, kubiarkan ia tumbuh dalam kesombonganku yang mulai runtuh, sementara nuraniku masih terus membisu, bertanya tentang apa yang sedang terjadi saat ini, ia masih saja tak mengerti mengapa ini terjadi, tapi memang begitulah adanya. Ketika sang waktu terus bergulir nurani berbisik bahwa aku masih terlalu dini untuk bisa mengenalnya, aku masih tak kan mampu menebang ego yang masih merambat tumbuh disela – sela cinta yang bersemi tanpa kendali, dimana emosi masih menghiasi setiap langkah dan keputusan yang ada. Tapi aku masih saja terus melangkah walaupun arah ku masih samar dalam bayangan semu yang sulit untuk tercipta, dalam khayal aku terus berangan akan suatu kehidupan indah yang masih jauh dalam tabir mimpi yang nisbi, yang terus membawa terbang jiwaku menembus cakrawala imaji, dan terus melayang. Nurani ku kembali berbisik, bahwa semua itu terlalu indah untuk menjadi suatu kenyataan yang ada. Namun aku terus memaksa mengikuti apa kata cinta itu sendiri, tanpa aku bertanya mengapa aku harus mengikuti cinta itu. mungkin lidah ku terlalu kelu untuk bisa bertanya tentang sesuatu yang nyata, mungkin bibirku terlalu lemah untuk bisa berkata, hingga akhirnya semua berjalan tanpa sesuatu yang pasti, dan terus saja berjalan menuju tepian mimpi yang aku sendiri tak pernah tahu ada apa dibalik semuanya ini. Hingga suatu hari emosi memberikan jawaban atas apa yang nurani katakan tentang sesuatu yang tak pasti, dan sesuatu yang masih dalam belenggu ego itu pun harus meluncurkan kata demi kata yang akhirnya harus menguraikan semua mimpi yang telah disulam dengan benang kasih sayang bertahtakan cinta itu menjadi sebuah duri yang mencabik semuanya dan merobek sutra keindahan dari mimpi yang telah bersemi. Luka membuat semuanya seakan tiada makna, perih membuat semuanya tiada arti, semuanya seakan telah mati, mungkin juga semuanya tak pernah ada, semuanya hilang dalam desiran angin kekecewaan, semua terbang ditelan awan kebencian hingga terkubur bersama pusara cinta yang kini hanya sebuah kisah pembawa duka, hanya cerita penambah resah dalam rasa bersalah yang tak mungkin kembali lagi, tak ada lagi senyum dalam cinta, tak ada lagi tawa dalam rasa, semuanya menjadi begitu terasa hampa, bagai melodi tanpa nada semuanya sirna dalam kelukaan yang mendalam. Sungguh, betapa cinta membuat manusia menjadi begitu tiada makna, pun cinta membuat manusia menjadi merasa selalu ada dalam bahagia. Besarnya kehadiran cinta dalam kehidupan manusia tak dapat dipungkiri bahwa ia adalah anugrah Illahi yang setiap orang mendambakan akan kehadirannya bersama ketulusan dan kesucian yang tak semua orang bisa mendapatkannya.

Dengan kedahsyatan cinta terukir kemegahan Taj Mahal, bersama cinta pula tumbang kekuatan Sang Napoleon, dan dalam cinta pula shakespeare menoreh kebesaran namanya, begitulah cinta. Begitupun denganku yang kini merasa sepi dalam penyesalan yang tiada arti, dalam resah yang selalu menerpa setiap langkah, membuat aku hampir terperosok kedalam keputus asaan yang meraja, walau diri ini masih terus meng-asa kehadirannya. Berharap keajaiban membawa cinta yang telah sirna, ya.. hanya sebuah keajaiban Tuhan yang kini kuharapkan. Ketegaran ku mulai roboh dalam kehampaan jiwa, keteguhanku mulai runtuh dalam belenggu rindu, semuanya seakan – akan perlahan sirna.

Dalam asa yang tiada arah, dan dalam sepi yang menyendiri, kulihat secercah cahaya dalam gelapnya hatiku yang semakin redup bersama padamnya cinta yang pernah menyala, serta dalam kegersangan jiwaku ini, tak terasa setetes embun Illahi memberi kesejukan iman yang pernah hilang dalam kegalauan, kuikuti dan terus kutelusuri, berharap ada jawab yang memberi damai jiwa, namun tiada pula kutemukan semuanya, semua masih dalam kebisuan, namun ketenangan perlahan merasuki jiwa serta raga ku yang mulai lemah bersama perginya rasa yang pernah ada. Masih, belum kutemukan jawab itu, dan masih pula kuberjalan menapaki semuanya, melayangku dalam ketenangan, terpana ku dalam kedamaian, seiring sang waktu yang terus berlalu, akupun kembali menemukan sesuatu, walau tak pasti, hidup yang dulu pernah ku lalui itu. langkah demi langkah mulai ku tata, meski dalam puing - puing jiwa yang resah oleh rasa bersalah, aku masih terus berjalan, lentera imanku yang redup dalam bayangan dosa kupertahankan untuk bisa menerangi jalanku yang mulai suram bersama keputus asaan, dalam ketertatihan, aku terus mencoba untuk bangkit dari mimpi yang pernah kurangkai dalam indahnya cinta, meski perih terus menusuk hati dan luka menoreh jiwa, aku masih terus berjalan, biar lah yang telah berlalu itu kan simpan dalam pusara jiwa yang kecewa, kan ku abadikan dalam nisan kenangan, yang mungkin tak seorangpun dapat membuka lembaran itu kembali. Kini, bersama kesendirian, kumulai kembali jalan yang tertunda setelah sekian lama, kusulam kembali jati diri yang pernah hilang dalam mimpi yang penuh imaji, dalam dekapan ‘ tangan Illahi ‘ kusandarkan semua yang tersisa, kuserahkan jiwa dan raga yang telah berlumur dosa, karena ku tahu ‘ Ia ‘ tahu apa yang tidak aku ketahui.

0 komentar

Posting Komentar